Langit Malam Februari Dihiasi dengan Konjungsi, Elongasi Planet dan Misi Antariksa
Langit malam pada bulan Februari 2026 menghadirkan beragam fenomena astronomi menarik yang dapat diamati oleh masyarakat. Sejumlah peristiwa langit, mulai dari fase-fase Bulan, konjungsi antar benda langit, elongasi planet, hingga agenda penting dalam eksplorasi antariksa, mewarnai kalender astronomi sepanjang bulan ini.
Salah satu fenomena utama yang terjadi adalah rangkaian fase Bulan. Bulan purnama yang dikenal sebagai Snow Moon terjadi pada 1 Februari 2026, disusul fase Bulan separuh akhir pada 9 Februari, dan fase Bulan Baru pada 17 Februari. Fase-fase ini menjadi momen penting bagi pengamatan astronomi, khususnya dalam menentukan kondisi langit malam yang optimal untuk observasi benda langit redup.
Selain fase Bulan, beberapa peristiwa konjungsi juga dapat disaksikan sepanjang Februari. Pada 18 Februari, Bulan akan tampak berdekatan dengan Venus dengan jarak sudut sekitar 2 derajat. Selanjutnya, pada 19 Februari, terjadi konjungsi segaris antara Bulan, Merkurius, dan Saturnus, serta elongasi timur maksimum planet Merkurius yang mencapai sekitar 18 derajat. Fenomena-fenomena ini menarik untuk diamati karena memperlihatkan dinamika posisi planet di Tata Surya dari sudut pandang Bumi.
Menjelang akhir bulan, tepatnya pada 27 Februari 2026, Bulan kembali mengalami konjungsi dengan planet Jupiter dengan jarak sudut sekitar 5 derajat. Peristiwa ini berpotensi menjadi objek pengamatan yang mudah dikenali, terutama dengan bantuan teropong atau teleskop, serta dalam kondisi cuaca yang cerah dan langit bebas polusi cahaya.
Tidak hanya fenomena langit, Februari 2026 juga menandai agenda penting dalam eksplorasi antariksa, yaitu rencana peluncuran wahana antariksa Artemis II pada 6 Februari. Misi ini merupakan bagian dari program eksplorasi Bulan yang bertujuan menguji kemampuan penerbangan berawak sebelum manusia kembali mendarat di Bulan. Dengan beragam peristiwa tersebut, Februari 2026 menjadi bulan yang kaya akan fenomena astronomi sekaligus momentum edukatif bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh tentang dinamika alam semesta.




