Berbagai Fenomena Astronomi Mengawali Tahun 2026

Mengawali tahun 2026, langit malam Indonesia akan dihiasi oleh beragam fenomena astronomi menarik yang dapat diamati oleh masyarakat. Pusat Studi Astronomi Universitas Ahmad Dahlan (PASTRON UAD) kembali merilis Kalender Fenomena Astronomi Bulanan Januari 2026 sebagai panduan bagi pengamat langit, pelajar, serta masyarakat umum yang tertarik pada astronomi. Kalender ini memuat daftar peristiwa astronomi penting yang terjadi sepanjang bulan Januari, lengkap dengan tanggal dan keterangan singkat, sehingga dapat membantu masyarakat merencanakan waktu terbaik untuk melakukan pengamatan langit malam.

Daftar Fenomena Astronomi yang Bisa Diamati pada Bulan Januari 2026

Pada awal bulan, tepatnya 1 Januari 2026, Bintang Sirius—bintang paling terang di langit malam akan mencapai titik tertingginya di langit. Fenomena ini menjadi momen yang baik untuk mengamati Sirius dengan mata telanjang, terutama pada malam hari dengan kondisi langit cerah. Selanjutnya, pada 3 Januari, masyarakat dapat menyaksikan Purnama Perigee (Supermoon), ketika Bulan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi, sekitar 362.000 kilometer, sehingga tampak lebih besar dan terang dari biasanya. Penduduk asli Amerika dan orang Eropa abad pertengahan menyebut bulan purnama Januari sebagai Bulan Serigala atau “Wolf Moon”. Hal ini diperkirakan karena serigala lebih banyak melolong pada waktu ini setiap tahunnya, karena ketersediaan makanan berkurang.

Fenomena menarik lainnya adalah puncak hujan meteor Quadrantid yang terjadi pada 4 Januari 2026. Hujan meteor ini dikenal memiliki intensitas tinggi dan dapat diamati pada dini hari di lokasi dengan minim polusi cahaya. Selain itu, komet 24P/Schwassmann–Wachmann tercatat berada di titik perihelion pada 7–8 Januari, menjadi perhatian khusus bagi pengamat dengan teleskop.

Ilustrasi Kenampakan Komet 24P/Schaumasse (kredit: wikipedia)

Di pertengahan bulan, planet Jupiter akan berada pada posisi oposisi pada 10 Januari, menjadikannya tampak sangat terang dan ideal untuk diamati sepanjang malam. Rentang 15–23 Januari juga menjadi periode aktif hujan meteor Y-Ursae Minorid, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah dibanding Quadrantid. Fase Bulan turut menghiasi kalender Januari 2026, diawali dengan fase Bulan Baru pada 18 Januari, waktu terbaik untuk pengamatan objek langit redup seperti galaksi dan nebula. Menjelang akhir bulan, terjadi sejumlah fenomena konjungsi, antara lain konjungsi Bulan dan Saturnus pada 23 Januari, konjungsi Bulan dan gugus Pleiades pada 27 Januari, serta peristiwa terokultasinya Bintang Beta Tauri (Elnath) oleh Bulan pada 29 Januari.

Seluruh fenomena astronomi yang tercantum dalam kalender ini dapat diamati dari wilayah Indonesia, baik menggunakan mata telanjang maupun dengan bantuan alat optik seperti teropong, teleskop, dan kamera astronomi, bergantung pada kondisi cuaca dan lokasi pengamatan. Kalender Fenomena Astronomi PASTRON UAD disusun sebagai bagian dari upaya edukasi dan literasi astronomi kepada masyarakat luas. Melalui publikasi rutin ini, PASTRON UAD berharap dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap pengamatan langit serta memperkenalkan berbagai fenomena astronomi yang terjadi secara alami dan berkala. Selain sebagai sarana edukasi publik, kalender ini juga menjadi panduan internal bagi tim pengamat Observatorium UAD dalam mempersiapkan peralatan dan agenda pengamatan sesuai jadwal fenomena yang berlangsung. PASTRON UAD berkomitmen untuk terus menghadirkan konten edukatif, kegiatan pengamatan, serta informasi astronomi yang akurat dan bermanfaat guna mendukung perkembangan ilmu astronomi di Indonesia.