Kemah Bintang bersama Pramuka UAD

Kemah Bintang (MABIT) dilaksanakan pada tanggal 24 – 25 Mei 2014 di Observatorium Kampus Empat, UAD. Kegiatan kemah semalam ini terlaksana atas kerjasama PASTRON dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka UAD. MABIT terlaksana berawal dari ide untuk mengenalkan Astronomi pada masyarakat melalui kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.

Sebenarnya, Pramuka sudah mengenal dan menggunakan Astronomi khususnya pada kegiatan navigasi. Seperti pada kegiatan dengan Boy Scout of America, JIS, pramuka UAD bisa menggunakan seberapa bagus kemampuan Astronomi untuk merencanakan tingkatan pada tanda kecakapan khusus.

Sebagai langkah awal, MABIT dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan awal tentang Astronomi pada anggota Pramuka. Materinya diantaranya :

  1. Pengenalan teleskop dan binokuler
  2. Navigasi dengan rasi bintang Crux dan Centaury
  3. Observasi Planet Mars dan Saturnus
  4. Pengenalan rasi bintang dan obyek – obyek Deep Sky

Selain itu, peserta MABIT belajar teknik astrofotografi dengan berbagai obyek, diantaranya Milkyway atau galaksi Bimasakti dan Saturnus. Pelatih astrofotografi adalah Ronny  Syamara dari Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ).

 

 

Observasi V for Venus

Observasi malam yang diadakan pada tanggal 3-4 Mei 2014 di Observatorium Kampus Empat adalah observasi pertama yang mengagendakan pengamatan langit malam sampai pagi hari. Beberapa planet yang bisa diamati saat itu adalah Jupiter, Mars, dan Venus. Planet Venus memang sudah dikenal sebagai bintang fajar di masyarakat Indonesia. Sehingga, peserta observasi antusias untuk mengenali titik cahaya yang manakah yang diidentifikasi sebagai planet Venus. Langkah selanjutnya adalah mengamatinya dengan bantuan teleskop.

Selain planet, peserta observasi malam belajar tentang rasi bintang, termasuk pengenal tentang rasi layang-layang atau salib selatan yang bisa digunakan sebagai navigasi. Peserta observasi sebagian besar adalah mahasiswa pendidikan Fisika, dapat memperoleh pengalaman menikmati indahnya galaksi Bimasakti. Meteor pun sempat terlihat di langit dan bercahaya terang sekitar 5 detik menuju ke arah Selatan.

Observasi Gerhana Matahari Sebagian 2014

Gerhana Matahari Cincin terjadi di beberapa bagian wilayah Bumi terutama di Selatan. Indonesia cukup beruntung bisa mengamati Gerhana Matahari ini sebagai Gerhana Matahari Sebagian. Namun, durasi Gerhana Matahari Sebagian sangat singkat, kurang dari 3 menit. Bahkan, piringan Matahari yang tertutup oleh piringan Bulan pun juga sangat kecil, yaitu 0,1 – 0,2%. Hal ini membuat observasi semakin sulit.

Namun, kesempatan ini sayang untuk dilewatkan. Maka, PASTRON mengadakan observasi Gerhana Matahari Sebagian di Observatorium Kampus Empat tanggal 29 April. Observasi juga dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Fisika Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Mereka juga membawa teleskop refraktor yang dilengkapi dengan filter matahari.

 

Alat tracking Matahari buatan mahasiswa Teknik Elektro, Burhanudin Latief, dibawah bimbingan Dr Muchlas Arkanuddin dan Yudhiakto Pramudya, Ph.D, digunakan untuk mengikuti gerakan Matahari. Sehingga, piringan Matahari selalu berada di medan pandang teleskop. Meskipun kami tidak berhasil melihat perbedaan antara Matahari dan Matahari yang mengalami gerhana, kami tetap mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang observasi Matahari.

Star Party Undangan HAAJ dan Boy Scout of America JIS

star partyHimpunan Astronomi Amatir Jakarta mendapat undangan untuk melakukan pelatihan kepada pramuka yang tergabung dalam Boy Scout of America. Pelatihan tersebut dalam rangka peraihan merit badge atau semacam tanda kecakapan khusus dalam kepanduan. Anggota HAAJ yang tergabung dalam tim pelatih sebanyak 4 orang, termasuk kepala PASTRON.  Kepala PASTRON sebagai anggota senior HAAJ yang memiliki kemampuan astronomi dan bahasa Inggris dengan baik diminta untuk membantu Rayhan, Aziz, dan Tri.

Pelatihan berlangsung pada tanggal 12 – 13 April 2014 di Pulau Pramuka. Tempat ini dipilih karena untuk pengaruh polusi cahaya dari kota Jakarta tidak besar. Namun, ternyata langit pada sore hari berawan sekali. Sehingga, pelatihan pengamatan bintang diganti dengan menyaksikan program Stellarium dan Starry Night dan juga film dokumenter tentang polusi cahaya. Selepas dini hari, langit terbuka dengan indahnya. Deretan rasi bintang, Bulan dan tentunya Galaksi Bima Sakti terlihat di langit malam. Pagi harinya, pengamatan Matahari dilakukan dengan teleskop yang dilengkapi dengan filter matahari.

 

 

Kelas Observasi Kuliah Astronomi April 2014

Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mata kuliah Astronomy, maka kelas observasi diadakan di Observatorium Kampus Empat. Observasi pada Kamis malam, tanggal 10 April 2014, berlangsung dengan cukup baik, meskipun hujan rintik. Kelas Observasi dihadiri oleh semua mahasiswa. Mahasiswa belajar tentang bagaimana memasang teleskop refraktor dengan Equatorial Mounting dan mensejajarkan dengan kutub selatan bola langit.

Target observasi adalah pengamatan Bulan.  Namun, beberapa kali hujan rintik dan mendung menghalangi pengamatan. Bulan dapat teramati sekitar 15 menit. Mahasiswa melaporkan hasil observasi pada lembar observasi lengkap dengan sketsa permukaan Bulan yang berhasil mereka amati.

Observasi Surya 30 Maret Feat: SAC

Observasi Surya kembali dilakukan pada hari Minggu tanggal 30 Maret 2014 di Observatorium Kampus Empat (OKE). Kegiatan berlangsung sejak pukul 9 sampai menjelang tengah hari. Observasi kali ini berbeda dengan observasi sebelumnya. Rekan astronomer amatir yang bernama M Thoyib ikut datang di kegiatan observasi. Astronomer amatir dari Surabaya Astronomy Club ini membantu persiapan teleskop dan turut membantu observasi. Selain itu, hadir juga peserta observasi dari masyarakat sekitar kampus empat. Seperti pada observasi surya sebelumnya, kami mengabadikan citra Matahari untuk mencocokkan bintik matahari (sunspot) dengan citra dari NASA.

Citra Matahari

Citra Matahari

Masyarakat Umum ikut menikmati indahnya Matahari

Masyarakat Umum ikut menikmati indahnya Matahari

Bintik Matahari dan Hari Tanpa Bayangan

Bintik matahari (sun spots) berhasil diamati pada observasi matahari 1 Maret 2014 di Observatorium Kampus Empat. Observasi kali ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan peristiwa hari tanpa bayangan. Peristiwa hari tanpa bayangan bisa terjadi pada saat lintang suatu tempat sama dengan sudut deklinasi matahari. Sehingga, pada saat tengah hari, bayangan pada suatu benda akan menghilang. Karena, pada saat itu, matahari akan tepat berada di zenit.

Citra matahari dihasilkan oleh teleskop skywatcher dengan diameter 90 mm dan kamera digital saku nikon coolpix L28. Citra kemudian diolah dengan GIMP untuk menghasilkan citra yang lebih jelas. Kemudian, citra dikonfirmasikan dengan citra matahari yang dihasilkan oleh SOHO.

 

Selain itu, peneliti dan mahasiswa mencoba mempraktekkan cara pengukuran arah kiblat dengan menggunakan replika Mizwala. Dengan bantuan software penunjuk matahari, kami dapat menentukan arah kiblat di Observatorium Kampus Empat.

 

 

Berita Workshop m Science and Science Dissemination for the Disabled

Berita tentang Workshop m Science and Science Dissemination for he Disabled yang diselenggarakan di ICTP telah dipublikasikan.

http://www.ictp.it/about-ictp/media-centre/news/2014/2/accessible-science.aspx

 

Accessible Science

ICTP promotes m-Science and science dissemination for people with disabilities
Participants of the WorkshopParticipants of the Workshop

17/02/2014 – Trieste

Scientific activities at ICTP are not just about increasing competence within the scientific community but also ensuring that the knowledge reaches those who may not have easy access to science. This idea was at the core of a recently held workshop on m-Science and science dissemination for people with disabilities. The workshop, which ran on 6 and 7 February 2014, was organised by ICTP’s Science Dissemination Unit (SDU). It brought together two ideas that can make science more accessible and inclusive. “The hope is to create innovative channels of communication based on the integration of different open, affordable, and mobile technologies for educating people with disabilities,” says Enrique Canessa, coordinator of SDU.

M-Science, or mobile science, uses mobile technology in powerful new ways to carry out scientific research, share results and disseminate knowledge in affordable ways. The SDU has been tapping into mobile technology (mobile phones, tablets, netbooks, etc.), the use of which has become almost ubiquitous around the world, to nurture scientific culture, especially in developing countries. This workshop was a continuation of the first one on m-Science held in 2010.

The workshop began with a focus on the latest developments in m-Science, including mobile data collection and environmental monitoring, remote sensing at large scales, capturing brainwave data on mobile devices, and m-Learning. “M-Science has the potential to change science education in developing countries because mobile devices can be used as effective learning tools to access knowledge and at one’s own pace,” says Canessa.

Day two gave participants insights into how science can be made accessible to people with disabilities. Canessa points out that people with disabilities face the risk of exclusion from science education or even education altogether, and the situation is exacerbated in developing countries due to high costs of rehabilitation techniques or lack of awareness about the available technologies.

To address these issues, speakers at the workshop presented interesting initiatives to take science to people with disabilities. These initiatives included “Astro vers Tous”, presented by Dominique Proust from the Observatoire de Meudon in France, which promotes studies in astronomy for people with hearing impairments. Other speakers introduced novel concepts to the participants, ranging from using 3-D printing technologies for building prosthetic limbs to developing science education methods for students with visual and speech impairments and developing a science syllabus to reach out to those with autism.

Recordings of these discussions are available on the ICTP.tv website under the Conferences link.

Percobaan Pertama Pengamatan Bintang Variabel

Pengamatan bintang variabel tidak berjalan dengan mulus karena beberapa kendala. Diantaranya faktor cuaca dan peralatan yang belum sempurna. Pengamatan bintang variabel nu gemini dengan menggunakan teleskop refraktor mounting equatorial dan CMOS dari webcam. Meskipun tidak berhasil dilakukan observasi dengan baik, kami berhasil membidik Jupiter dan melakukan berbagai rencana untuk perbaikan alat terutama webcam.

Pengamatan tracking Bulan juga tertunda karena Bulan tertutup mendung. Pengamatan di Observatorium Kampus Empat (OKE) akan di lakukan esok hari dengan catatan cuaca mendukung.