Star Party Undangan HAAJ dan Boy Scout of America JIS

star partyHimpunan Astronomi Amatir Jakarta mendapat undangan untuk melakukan pelatihan kepada pramuka yang tergabung dalam Boy Scout of America. Pelatihan tersebut dalam rangka peraihan merit badge atau semacam tanda kecakapan khusus dalam kepanduan. Anggota HAAJ yang tergabung dalam tim pelatih sebanyak 4 orang, termasuk kepala PASTRON.  Kepala PASTRON sebagai anggota senior HAAJ yang memiliki kemampuan astronomi dan bahasa Inggris dengan baik diminta untuk membantu Rayhan, Aziz, dan Tri.

Pelatihan berlangsung pada tanggal 12 – 13 April 2014 di Pulau Pramuka. Tempat ini dipilih karena untuk pengaruh polusi cahaya dari kota Jakarta tidak besar. Namun, ternyata langit pada sore hari berawan sekali. Sehingga, pelatihan pengamatan bintang diganti dengan menyaksikan program Stellarium dan Starry Night dan juga film dokumenter tentang polusi cahaya. Selepas dini hari, langit terbuka dengan indahnya. Deretan rasi bintang, Bulan dan tentunya Galaksi Bima Sakti terlihat di langit malam. Pagi harinya, pengamatan Matahari dilakukan dengan teleskop yang dilengkapi dengan filter matahari.

 

 

Kelas Observasi Kuliah Astronomi April 2014

Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mata kuliah Astronomy, maka kelas observasi diadakan di Observatorium Kampus Empat. Observasi pada Kamis malam, tanggal 10 April 2014, berlangsung dengan cukup baik, meskipun hujan rintik. Kelas Observasi dihadiri oleh semua mahasiswa. Mahasiswa belajar tentang bagaimana memasang teleskop refraktor dengan Equatorial Mounting dan mensejajarkan dengan kutub selatan bola langit.

Target observasi adalah pengamatan Bulan.  Namun, beberapa kali hujan rintik dan mendung menghalangi pengamatan. Bulan dapat teramati sekitar 15 menit. Mahasiswa melaporkan hasil observasi pada lembar observasi lengkap dengan sketsa permukaan Bulan yang berhasil mereka amati.

Observasi Surya 30 Maret Feat: SAC

Observasi Surya kembali dilakukan pada hari Minggu tanggal 30 Maret 2014 di Observatorium Kampus Empat (OKE). Kegiatan berlangsung sejak pukul 9 sampai menjelang tengah hari. Observasi kali ini berbeda dengan observasi sebelumnya. Rekan astronomer amatir yang bernama M Thoyib ikut datang di kegiatan observasi. Astronomer amatir dari Surabaya Astronomy Club ini membantu persiapan teleskop dan turut membantu observasi. Selain itu, hadir juga peserta observasi dari masyarakat sekitar kampus empat. Seperti pada observasi surya sebelumnya, kami mengabadikan citra Matahari untuk mencocokkan bintik matahari (sunspot) dengan citra dari NASA.

Citra Matahari

Citra Matahari

Masyarakat Umum ikut menikmati indahnya Matahari

Masyarakat Umum ikut menikmati indahnya Matahari

Bintik Matahari dan Hari Tanpa Bayangan

Bintik matahari (sun spots) berhasil diamati pada observasi matahari 1 Maret 2014 di Observatorium Kampus Empat. Observasi kali ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan peristiwa hari tanpa bayangan. Peristiwa hari tanpa bayangan bisa terjadi pada saat lintang suatu tempat sama dengan sudut deklinasi matahari. Sehingga, pada saat tengah hari, bayangan pada suatu benda akan menghilang. Karena, pada saat itu, matahari akan tepat berada di zenit.

Citra matahari dihasilkan oleh teleskop skywatcher dengan diameter 90 mm dan kamera digital saku nikon coolpix L28. Citra kemudian diolah dengan GIMP untuk menghasilkan citra yang lebih jelas. Kemudian, citra dikonfirmasikan dengan citra matahari yang dihasilkan oleh SOHO.

 

Selain itu, peneliti dan mahasiswa mencoba mempraktekkan cara pengukuran arah kiblat dengan menggunakan replika Mizwala. Dengan bantuan software penunjuk matahari, kami dapat menentukan arah kiblat di Observatorium Kampus Empat.

 

 

Berita Workshop m Science and Science Dissemination for the Disabled

Berita tentang Workshop m Science and Science Dissemination for he Disabled yang diselenggarakan di ICTP telah dipublikasikan.

http://www.ictp.it/about-ictp/media-centre/news/2014/2/accessible-science.aspx

 

Accessible Science

ICTP promotes m-Science and science dissemination for people with disabilities
Participants of the WorkshopParticipants of the Workshop

17/02/2014 – Trieste

Scientific activities at ICTP are not just about increasing competence within the scientific community but also ensuring that the knowledge reaches those who may not have easy access to science. This idea was at the core of a recently held workshop on m-Science and science dissemination for people with disabilities. The workshop, which ran on 6 and 7 February 2014, was organised by ICTP’s Science Dissemination Unit (SDU). It brought together two ideas that can make science more accessible and inclusive. “The hope is to create innovative channels of communication based on the integration of different open, affordable, and mobile technologies for educating people with disabilities,” says Enrique Canessa, coordinator of SDU.

M-Science, or mobile science, uses mobile technology in powerful new ways to carry out scientific research, share results and disseminate knowledge in affordable ways. The SDU has been tapping into mobile technology (mobile phones, tablets, netbooks, etc.), the use of which has become almost ubiquitous around the world, to nurture scientific culture, especially in developing countries. This workshop was a continuation of the first one on m-Science held in 2010.

The workshop began with a focus on the latest developments in m-Science, including mobile data collection and environmental monitoring, remote sensing at large scales, capturing brainwave data on mobile devices, and m-Learning. “M-Science has the potential to change science education in developing countries because mobile devices can be used as effective learning tools to access knowledge and at one’s own pace,” says Canessa.

Day two gave participants insights into how science can be made accessible to people with disabilities. Canessa points out that people with disabilities face the risk of exclusion from science education or even education altogether, and the situation is exacerbated in developing countries due to high costs of rehabilitation techniques or lack of awareness about the available technologies.

To address these issues, speakers at the workshop presented interesting initiatives to take science to people with disabilities. These initiatives included “Astro vers Tous”, presented by Dominique Proust from the Observatoire de Meudon in France, which promotes studies in astronomy for people with hearing impairments. Other speakers introduced novel concepts to the participants, ranging from using 3-D printing technologies for building prosthetic limbs to developing science education methods for students with visual and speech impairments and developing a science syllabus to reach out to those with autism.

Recordings of these discussions are available on the ICTP.tv website under the Conferences link.

Percobaan Pertama Pengamatan Bintang Variabel

Pengamatan bintang variabel tidak berjalan dengan mulus karena beberapa kendala. Diantaranya faktor cuaca dan peralatan yang belum sempurna. Pengamatan bintang variabel nu gemini dengan menggunakan teleskop refraktor mounting equatorial dan CMOS dari webcam. Meskipun tidak berhasil dilakukan observasi dengan baik, kami berhasil membidik Jupiter dan melakukan berbagai rencana untuk perbaikan alat terutama webcam.

Pengamatan tracking Bulan juga tertunda karena Bulan tertutup mendung. Pengamatan di Observatorium Kampus Empat (OKE) akan di lakukan esok hari dengan catatan cuaca mendukung.

Partisipasi di Workshop M-Science

Kepala Pusat Studi Astronomi, Yudhiakto Pramudya menghadiri workshop m-science and science dissemination for the disabled di ICTP (International Centre for Theoretical Physics), Italia. Workshop diadakan pada tanggal 6-7 Februari 2014. Pada Workshop m-science peserta mempresentasikan penelitian tentang penggunaan piranti mobile untuk menunjang proses pengajaran dan penelitian. Diantaranya, optimasi sensor mobil dan HP yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya penentuan perilaku mengemudi seorang sopir yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan asuransi.

Pada workshop hari kedua, Pramudya mempresentasikan penelitian tentang pendidikan astronomi untuk tuna netra. Penelitian tersebut dibantu oleh 2 mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan Fisika UAD, Yesi Farida dan Fitri Nur Hikmah. Ternyata, kegiatan diseminasi sains khususnya astronomi telah mulai dilakukan oleh teman-teman peneliti dari Portugal, Amerika Serikat, Perancis, Argentina dan negara-negara lainnya.

Pada workshop tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk melihat dari dekat printer 3D yang berguna untuk pengajaran sains pada tuna netra. Selain itu, peserta mencoba membuat applikasi tanpa harus belajar coding, yaitu dengan menggunakan software gratis MITappinventor. Demo Arduino juga diberikan sebagai alat untuk menunjang penelitian dan pengajaran. Yang menariknya lagi, peserta workshop mendapatkan kesempatan mencoba berbagai alat peraga pendidikan sains di Scientifico Imaginario, yaitu Pusat Peragaan IPTEK.

 

Partisipasi di Winter School on Radio Astronomy

Pada tanggal 27 sampai dengan 30 Januari 2014 lalu, mahasiswa S2 Pendidikan Fisika yang sekaligus sebagai peneliti Pastron terpilih untuk mengikuti Winter School on Introductory Radio Astronomy. Winter School ini diadakan di NARIT (National Astronomical Research in Thailand) di Chiang Mai, Thailand. NARIT dan Korea Astronomy and Space Science Institute (KASI) bekerjasama mengadakan Winter School ini untuk mengantisipasi perkembangan riset astronomi radio di Asia, khususnya di Asia Tenggara.

Pada Winter School ini, peserta mendapatkan pelatihan yang terdiri atas pengenalan  astronomi radio, instrumentasi, dan pengolahan data observasi. Selain itu, profesor dari Selandia dan negara-negara Asia Tenggara melaporkan perkembangan riset astronomi radio. Peneliti pastron, Fitria Sarnita mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil pengolahan data observasi pada Winter School tersebut.

 

Observasi Tracking Matahari

PASTRON melakukan observasi matahari di kampus 2 UAD pagi ini tangal 22 Januari 2014. Observasi dilakukan dengan menggunakan teleskop skywatcher refraktor dilengkapi dengan  filter matahari. Teleskop dan filter matahari yang dipakai adalah milik Pasca Sarjana Pendidikan Fisika UAD. Observasi ini juga sekaligus sebagai eksperimen alat tracker benda langit yang dibuat oleh mahasiswa S1 Teknik Elektro UAD, Burhanudin Latief. Langit Jogja pada pagi hari lebih baik daripada siang hari dan sore hari. Matahari dapat diamati meskipun beberapa kali sempat tertutup awan.

DSCN2541 DSCN2539

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Observasi akan dilakukan selama beberapa hari ke depan karena set up alat yang masih belum sempurna.