InOMN 2015 di Kampus 3 UAD

Logo_2013_smPusat Studi Astronomi dan Kelompok Studi ANDROMEDA akan menyelenggarakan malam observasi Bulan pada tanggal 19 September 2015. Acara ini dalam rangkaian International Observation The Moon Night (InOMN) yang dilakukan secara serempak di seluruh penjuru dunia. Tahun ini, kami akan mengadakan di Lapangan Basket (Parkir Lab) Kampus 3 Universitas Ahmad Dahlan. Acara berlangsung Continue reading

Observasi 1 Syawal 1436 H

Problematika awal bulan pada kalender Qamariyah masih terjadi. Tanggal 14 Juli 2015, kepala Pusat Studi Astronomi diundang sebagai salah satu pembicara dalam kolokium astronomi di gedung PP Muhammadiyah di Jakarta Pusat. Kolokium membahas sejumlah ide, gagasan, ulasan, dan analisis tentang sistem kalender Qamariyah khususnya untuk menyambut penentuan Continue reading

Pastron Adakan Seminar Astronomi

candiAstronomi atau ilmu perbintangan sudah tak asing lagi dalam budaya Nusanara ini. Kita pasti sudah mengenal istilah gubug penceng, waluku, wuluh, dan sapi gumarang. Ya, itulah beberapa penamaan rasi-rasi bintang dalam bahasa Jawa. Sudah barang tentu, di daerah dan budaya lain pasti mempunyai istilah yang berbeda-beda.

Kekayaan dan kearifan lokal Nusantara masih banyak yang belum dikaji dan diteliti. Khususnya budaya lokal Continue reading

Pastron Siap Sambut Gerhana Matahari 2016

Lokakarya Nasional, Lapan

Lokakarya Nasional, Lapan

Pada tahun 2016 yang akan datang, tepatnya pada tanggal 9 Maret 2016, Indonesia akan mengalami peristiwa alam yang amat langka, gerhana matahari total. “Gerhana matahari total menampangkan dirinya pagi hari di wilayah Indonesia pukul 07.15 WIB”, papar mantan Direktur Observatorium Bosscha Bambang Hidayat. Hampir di semua wilayah Indonesia dapat menikmati peristiwa ini. Daerah yang dilintasi gerhana matahari total itu terentang dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan berakhir di Maluku Utara, selebihnya Continue reading

Sosialisasi Hisab 1435 H

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan sarasehan dan sosialisasi Paham Hisab 1435 Hijriyah di kantor PP Muhammadiyah pada tanggal 29 Mei 2014. Acara ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi para pengurus Majelis tarjih dan Tajdid menjelaskan tentang paham Hisab (perhitungan) yang digunakan oleh Muhammadiyah untuk penentuan awal bulan Hiriyah. Selain itu, peserta juga diberikan untuk kesempatan berdiskusi dan berbagi tentang problematika pensosialisasian keputusan dan pedoman Hisab pada masyarakat.

Perbedaan dalam metode penentuan awal bulan menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat yang bingung dalam memulai ibadah terutama yang berkaitan dengan awal Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah. Metode Hisab yang digunakan oleh PP Muhammadiyah adalah Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Kriteria yang digunakan untuk penentuan awal bulan Hiriyah adalah

  1. Telah terjadi ijtimak atau konjungsi antara Bulan dan Matahari
  2. Ijtimak atau konjungsi Bulan dan Matahari terjadi sebelum Matahari terbenam
  3. Pada saat Matahari terbenam, Bulan belum terbenam

Kriteria tersebut berdasarkan petunjuk pada kitab suci Al Quran surat Ya Sin ayat 39 dan 40.

Untuk 1435 H, PP Muhammadiyah menetapkan bahwa :

A. Ramadhan 1435 H

  1. Ijtimak jelang Ramadhan 1435 H terjadi pada hari Jumat Pahing, 27 Juni 2014 M pukul 15:10:21 WIB.
  2. Tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam di Yogyakarta adalah 0 derajat 31 menit dan 17 detik
  3. Pada saat Matahari terbenam, di sebagian wilayah barat Indonesia, hilal sudah wujud dan di sebagian wilayah timur Indonesia belum wujud.

B. Syawal 1435 H

  1. Ijtimak jelang Syawal 1435 H terjadi pada hari Ahad Pahing, 27 Juli 2014 M pukul 05:43:39 WIB.
  2. Tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam di Yogyakarta adalah 3 derajat 37 menit dan 48 detik

C. Dzulhijah 1435 H

  1. Ijtimak jelang Dzulhijah 1435 H terjadi pada hari Rabu Legi, 24 September 2014 M pukul 13:15:45 WIB.
  2. Tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam di Yogyakarta adalah 0 derajat 30 menit dan 04 detik.
  3. Pada saat Matahari terbenam, di sebagian wilayah barat Indonesia, hilal sudah wujud dan di sebagian wilayah timur Indonesia belum wujud.

Sehingga PP Muhammadiyah menetapkan bahwa :

Tanggal 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Sabtu Pon, 28 Juni 2014 M.

Tanggal 1 Syawal 1435 H jatuh pada hari Senin Pon, 28 Juli 2014 M.

Tanggal 1 Dzulhijah 1435 H jatuh pada hari Kamis Pahing, 25 September 2014 M.

Hari Arafah (9 Dzulhijah 1435 H) jatuh pada hari Jumat Kliwon, 3 Oktober 2014 M.

‘Idul Adha (10 Dzulhijah 1435 H) jatuh pada hari Sabtu Legi, 4 Oktober 2014 M.

 

Meskipun PP Muhammadiyah menggunakan metode Hisab untuk menentukan awal bulan Hiriyah, namun Muhammadiyah tidak berhenti belajar untuk mempelajari teknik Rukyat (Observasi). Pusat Studi Astronomi UAD diberikan kesempatan untuk membantu pemutakhiran Hisab dan pelatihan Rukyat.

 

sumber :

  1. Maklumat Pimpina Pusat Muhammadiyah Nomor : 02/MLM/I.0/E/2014
  2. Argumentasi Hisab Muhammadiyah, 2014

Kemah Bintang bersama Pramuka UAD

Kemah Bintang (MABIT) dilaksanakan pada tanggal 24 – 25 Mei 2014 di Observatorium Kampus Empat, UAD. Kegiatan kemah semalam ini terlaksana atas kerjasama PASTRON dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka UAD. MABIT terlaksana berawal dari ide untuk mengenalkan Astronomi pada masyarakat melalui kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.

Sebenarnya, Pramuka sudah mengenal dan menggunakan Astronomi khususnya pada kegiatan navigasi. Seperti pada kegiatan dengan Boy Scout of America, JIS, pramuka UAD bisa menggunakan seberapa bagus kemampuan Astronomi untuk merencanakan tingkatan pada tanda kecakapan khusus.

Sebagai langkah awal, MABIT dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan awal tentang Astronomi pada anggota Pramuka. Materinya diantaranya :

  1. Pengenalan teleskop dan binokuler
  2. Navigasi dengan rasi bintang Crux dan Centaury
  3. Observasi Planet Mars dan Saturnus
  4. Pengenalan rasi bintang dan obyek – obyek Deep Sky

Selain itu, peserta MABIT belajar teknik astrofotografi dengan berbagai obyek, diantaranya Milkyway atau galaksi Bimasakti dan Saturnus. Pelatih astrofotografi adalah Ronny  Syamara dari Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ).

 

 

Observasi V for Venus

Observasi malam yang diadakan pada tanggal 3-4 Mei 2014 di Observatorium Kampus Empat adalah observasi pertama yang mengagendakan pengamatan langit malam sampai pagi hari. Beberapa planet yang bisa diamati saat itu adalah Jupiter, Mars, dan Venus. Planet Venus memang sudah dikenal sebagai bintang fajar di masyarakat Indonesia. Sehingga, peserta observasi antusias untuk mengenali titik cahaya yang manakah yang diidentifikasi sebagai planet Venus. Langkah selanjutnya adalah mengamatinya dengan bantuan teleskop.

Selain planet, peserta observasi malam belajar tentang rasi bintang, termasuk pengenal tentang rasi layang-layang atau salib selatan yang bisa digunakan sebagai navigasi. Peserta observasi sebagian besar adalah mahasiswa pendidikan Fisika, dapat memperoleh pengalaman menikmati indahnya galaksi Bimasakti. Meteor pun sempat terlihat di langit dan bercahaya terang sekitar 5 detik menuju ke arah Selatan.

Observasi Gerhana Matahari Sebagian 2014

Gerhana Matahari Cincin terjadi di beberapa bagian wilayah Bumi terutama di Selatan. Indonesia cukup beruntung bisa mengamati Gerhana Matahari ini sebagai Gerhana Matahari Sebagian. Namun, durasi Gerhana Matahari Sebagian sangat singkat, kurang dari 3 menit. Bahkan, piringan Matahari yang tertutup oleh piringan Bulan pun juga sangat kecil, yaitu 0,1 – 0,2%. Hal ini membuat observasi semakin sulit.

Namun, kesempatan ini sayang untuk dilewatkan. Maka, PASTRON mengadakan observasi Gerhana Matahari Sebagian di Observatorium Kampus Empat tanggal 29 April. Observasi juga dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Fisika Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Mereka juga membawa teleskop refraktor yang dilengkapi dengan filter matahari.

 

Alat tracking Matahari buatan mahasiswa Teknik Elektro, Burhanudin Latief, dibawah bimbingan Dr Muchlas Arkanuddin dan Yudhiakto Pramudya, Ph.D, digunakan untuk mengikuti gerakan Matahari. Sehingga, piringan Matahari selalu berada di medan pandang teleskop. Meskipun kami tidak berhasil melihat perbedaan antara Matahari dan Matahari yang mengalami gerhana, kami tetap mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang observasi Matahari.