Category Archives: Observasi

KUNJUNGAN MGMP KLATEN KE OBSERVATORIUM UAD

Sabtu, 8 Desember 2018. Observatorium UAD mendapat kunjungan dari  Guru MGMP Klaten. Peserta Kunjungan kali ini berjumlah 43 orang. Selain melihat instrumen-instrumen Astronomi salah satunya teleskop, Guru-Guru yang tergabung sebagai MGMP Klaten medapatkan kesempatan untuk melakukan workshop mengenai pembuatan spektroskopis sederhana. Ari Purwanto sebagai ketua MGMP Klaten menyatakan antusisame mereka terhadap observatorium UAD. Selain menambah wawasan mengenai Astronomi,  Observatorium UAD juga dapat dijadikan sebagai wisata edukasi. Mereka berharap dapat mengunjungi lagi Observatorium UAD dengan membawa siswa-siswi.

Gambar 1. Walaupun cuaca sedang mendung, antusiasme Guru untuk melihat Matahari masih tinggi

Gambar 2. Workshop Pembuatan Spektroskopis sederhana

Gambar 3. Dengan berlatarbelakang Kubah, Kunjungan Guru MGMP Mengakhiri Kegiatannya.

 

Pencanangan Observatorium Nasional Timau

Observatorium sebagai pusat kegiatan penelitian astronomi mempunyai potensi tidak hanya meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi di suatu bangsa, namun juga meningkatkan taraf hidup masyarakat. Terlebih bila pembangunan observatorium dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung seperti pusat sains, sentra perekonomian, pembangunan infrastruktur.

Observatarium Nasional Timau yang terletak di  kaki Gunung Timau ini adalah perwujudan cita-cita besar tadi.Selama proses panjang dan berliku untuk perijinan, akhirnya pada tanggal 9 Juli 2018, dilakukan pencanangan Observatorium Nasional Timau. Observatorium ini memang terletak di daerah yang masih minim polusi cahaya. Gunung Timau adalah salah satu gunung di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai daerah ini, kita harus berkendara selama kurang lebih 5 jam ke arah Amfoang. Tepatnya di KabupatenKupang dengan koordinat 9 derajat 35 menit 50,2 detik Lintang Selatan dan 123 derajat 56 menit 48,5 detik Bujur Timur.

Kepala Pusat Studi Astronomi mewakili Rektor UAD menghadiri acara tersebut untuk memenuhi undangan dari LAPAN. Perjalanan ke lokasi dimulai dari kota Kupang selepas salat subuh. Terdapat setidaknya 12 mobil sekelas pajero untuk dapat mencapai lokasi. Selama kurang lebih 1 jam memang jalanan masih mulus. Namun,  jalanan sepanjang 60an km setelahnya harus ditempuh sekitar 4 jam dengan medan yang sangat berat.

 

Medan yang berbatu sekitar 60 km

 

Meski kondisi jalan sudah rusak parah, namun masih ada hiburan berupa pemandangan alam yang indah. Perbukitan, gunung dipadu dengan sabana yang mulai meninggalkan warna hijau karena musim kemarau sudah tiba.

Pemandangan alam yang memukau

Pemandangan alam yang memukau

 

Akhirnya kami tiba disambut oleh warga setempat. Acara pencanangan observatorium didahului dengan upacara adat untuk penyerahan tanah adat kepada negara Republik Indonesia. Tersurat pesan dari tetua adat bahwasanya mereka rela untuk memberikan tanah adat agar dapat merasakan kemerdekaan Indonesia yang sudah 73 tahun lamanya. Tercermina wajah penuh optimis dari penduduk setempat.

P_20180709_121637

Warga setempat yang antusias dengan latar belakang Gunung Timau

 

Kepala LAPAN, Prof. Dr Thomas Djamaluddin juga menyebutkan bahwasanya observatorium nasional ini terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya ditujukan juga untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Selain itu, beliau juga berpesan agar warga ikut melindungi lingkungan agar polusi cahaya tetap rendah. Sehingga tidaklah musthail bila lokasi ini juga disiapkan menjadi Taman Nasional Langit Gelap yang akan dikelola bersama dengan dinas pariwisata.

P_20180709_130033

Kepala LAPAN dan Kepala PASTRON UAD

 

 

 

Kerjasama lintas disiplin dan lintas institusi diharapkan dapat berjalan dengan optimal sehingga Observatorium Nasional Timau ini dapat segera selesai dibangun.

 

P_20180709_122508

Rektor ITERA, Dosen Astronomi ITB dan Kepala PASTRON UAD

 

Star Party bersama MM UGM

13 Oktober 2017 PASTRON dan KS ANDROMEDA membantu kegiatan makrab yang dilaksanakan oleh Master Managemen UGM.  Dalam kegiatan ini mereka di jelaskan alat yang digunakan untuk mengamati benda langit dalam dunia astronomi dan ikut serta mengamati langit malam menghunakan teleskop. Antusiasme mereka mengikuti kegiatan obaervasi benda langit karna observasi ini merupakan pengalaman baru bagi mereka.

 

 

IMG_20171014_100108_614

Pastron dan KS Andromeda Universitas Ahmad Dahlan kembali mengadakan kegiatan Astronomi untuk masyrakat

IMG-20171028-WA0018Dalam rangka memperingati hari astronomi dunia International Observe The Moon Night (InOMN)  Pastron dan KS Andromeda Universitas Ahmad Dahlan  pada hari sabtu, 28 oktober 2017  telah mengadakan kegiatan observasi benda langit menggunakan teleskop dan pengenalan fase bulan kepada masyarakat umum. Di dalam kegiatan ini di sediakan 3 buah teleskop dan 4 buah alat praga fase bulan. kegitan berjalan dengan  lancar walaupun pada saat acara berlangsung langit mendung sehingga untuk pengamatan bulan menggunakan teleskop sedikit telambat.

Antusiame Mahasiswa Program Magister (S2) Pendidikan Fisika UAD mengikuti Kelas Observasi

Kegiatan observasi benda langit yang dilakukan oleh mahasiswa Program Magister (S2) Pendidikan Fisika UAD pada mata kuliah astronomi dosen pengampu oleh Yudhiakto Pramudya, Ph.D. pada tanggal 30 september 2017 berjalana lancar.

Terlihat mahasiwa serius mendengarkan penjelasan bagian – bagian teleskop dan tehnik menggunakan untuk  observasi  benda langit yang di jelaskan oleh  anggota kelompok study  astronomi UAD (ANDROMEDA) terlihat juga Antusiame mahasiswa ketika melihat bulan dan memotret bulan  menggunakan kamera handphone menggunakan teleskop.

IMG-20171003-WA0002

IMG-20171003-WA0000

IMG-20171003-WA0001                                                                                                                                                                                                                    Kegiatan ini observasi benda langit ini bertujuan untuk memberikan pengalaman mahasiswa menggunakan telekop, mengarahkan teleskop ke obyek langit dan mencatat observasi di log book.

 

Percobaan Night At The Observatory

Untuk mempersiapkan Observatorium yang sedang dibangun, maka Pusat Studi Astronomi dan Kelompok Studi ANDROMEDA mengadakan persiapan kegiatan untuk publik. Kami menamakannya Night At The Observatory (NATO).

Berikut foto-foto kegiatannya :

P_20170205_192005

P_20170205_192034

P_20170205_192325

Kami mengevaluasinya sehingga dapat dibuat suatu kegiatan yang memberikan pelayanan kepada publik dengan baik.

SUPERMOON 14 NOVEMBER 2016

OBSERVASI SUPERMOON

OBSERVATORIUM KAMPUS EMPAT, UAD, 14 November 2016, bada Maghrib – selesai

JANGAN LUPA, mention foto-foto SUPERMON @pastronUAD , instagram : andromeda_uad , FB : Andromeda uad

Dapatkan sticker, dan bila foto terpilih menjadi yang terbaik akan mendapatkan Mug

 

()()()()()()()()()()

 

Berikut adalah naskah radio show ANGKRINGAN ANGKASA tentang SUPERMOON

Sobat ramada tau gak apa itu Super Moon atau Bulan Super?

Mendengar kata super tentunya berhubungan dengan sesuatu yang besar atau lebih dari pada umumnya. Nah, begini ceritanya Supermoon itu.

Supermoon adalah istilah yang biasa digunakan oleh para astrolog untuk menggambarkan keadaan Bulan Purnama pada saat jaraknya dari Bumi pada posisi yang paling dekat. Istilah “supermoon” pertama kali digunakan oleh astrolog Richard Nolle pada tahun 1979. Astrolog beda dengan astronom. Astrolog menghubungkan fenomena atau peristiwa astronomi dengan nasib seseorang atau daerah.

Meskipun sering berkaitan dengan Bulan Purnama, Supermoon bisa juga terjadi pada saat fase Bulan baru. Dalam astronomi, Bulan bisa berada di titik terjauh dan terdekat dengan Bumi. Hal ini karena orbit Bulan mengelilingi Bumi tidak berbentuk lingkaran melainkan agak sedikit lonjong atau elips. Titik terjauh dikenal dengan istilah apogee, sobat ramada, sedangkan titik terdekat dikenal dengan istilah perigee. Saat Bulan mencapai titik terdekat atau perigee inilah, terjadilah fenomena yang dikenal dengan Supermoon.

Ketika fenomena ini terjadi, Bulan nampak lebih besar dan lebih terang, meskipun perubahan jaraknya hanya beberapa kilometer. Jadi yang berubah diameter tampaknya atau diameter sudutnya, diameter sebenarnya tidak berubah.

Menurut Nolle, Supermoon terjadi ketika Bumi, Bulan dan Matahari berada dalam satu garis lurus di bidang Tata Surya. Sehingga dengan definisi ini, dimungkinkan terdapat 4 hingga 6 kejadian supermoon setiap tahunnya. Menarik untuk diamati kan?

Nah sekarang kita dengar sebuah daftar tanggal terjadinya Supermoon ini. Berikut ini adalah daftar dari masa lalu :

November 10, 1954 ;  November 20, 1972 ;  January 8, 1974  ;  February 26, 1975

December 2, 1990 ;  January 19, 1992  ;  March 8, 1993  ;  January 10, 2005

December 12, 2008  ; January 30, 2010 ;  March 19, 2011 ;

November 14, 2016 yang akan kita lihat

January 2, 2018  ; January 21, 2023 ;  November 25, 2034 ; January 13, 2036

 

Sobat ramada tau gak mitos-mitos yang beredar di masyarakat bahwa. Seperti tadi yang sudah dijelaskan diawal, selalu dihubungkan dengan kejadian atau nasib buruk. Misalnya ada kejadian bencana alam menjelang atau sesudah Supermoon. Padahal Supermoon tidak banyak mempengaruhi dinamika Bumi. Memang sejak seminggu yang lalu, daerah Jawa bagian selatan dan selatan pulau Jawa tepatnya di samudera hindia, terjadi peningkatan aktivitas tektonik yang kita rasakan sebagai gempa. Namun, itu tidak ada hubungannya dengan Supermoon.

Memang fase Bulan baru dan Bulan purnama berkaitan dengan pasang naik dan pasang surut air laut. Namun, perubahan ketinggian dari biasanya tidaklah besar hanya beberapa centimeter pertambahannya. Ingat, yang dimaksud disini adalah ketinggian permukaan laut. Sedangkan tinggi gelombang laut dipengaruhi oleh angin. Sehingga perlu memantau kondisi meteorologis setempat. Info ini bisa didapatkan dari stasiun meteorologi yaitu BMKG.

Ok, sudah siap untuk lebih banyak mendengarkan angka-angka yang berkaitan dengan Supermoon? Angka-angka ini berhubungan dengan kapan mengamati Supermoon, seberapa besar Bulan Purnama, seberapa terang Bulan purnama dan lain-lain.

Pada tanggal 14 November 2016 tepatnya pada pukul 18:23 WIB atau selepas Maghrib dan sebelum Isya, Bulan hanya berjarak sekitar 356.509 km dari Bumi. Jarak ini adalah jarak yang paling dekat, pada tahun 2016. Sedangkan sekitar 2 pekan lalu, saat fase Bulan Baru, Bulan berada pada titik terjauh dari Bumi atau apogee, pada tahun 2016 ini. Jaraknya adalah 406.662 km. Dan itu terjadi pada 1 November 2016 lalu pada pukul 02:30 WIB. Dalam kurun waktu 2 minggu, jaraknya berubah sejauh 50.153 km. Secara rata-rata, jarak Bumi dengan Bulan adalah 384400 km.

Nah, pada saat apogee yang tadi kita bicarakan, dekat dengan fase Bulan Baru. Pada saat perigee tanggal 14 November 2016, berdekatan dengan fase Bulan Purnama. Purnama akan tepat terjadi pada 14 November 2016 pukul 20:54 WIB. Sehingga, efeknya Bulan Purnama akan tampak lebih besar daripada purnama biasanya. Memang masih ada perbedaan antara waktu perigee yaitu jarak Bulan Bumi paling dekat dengan waktu Purnama. Bila terjadi perbedaan waktu yang kecil, misalnya keduanya terjadi pada jam yang sama, maka Purnama akan terlihat semakin besar. Ada istilah juga extra-close supermoon, yaitu pada saat perigee Bulan bersamaan dengan Bulan Purnama dan pada saat perihelium atau saat Bumi berada pada jarak terdekat dengan Matahari. Hal ini pernah terjadi pada tanggal 4 Januari 1912.

Supermoon ini memang berulangkali terjadi. Sebelum 14 november 2016, saat perigee yang berdekatan dengan Purnama adalah tanggal 26 Januari 1948 dengan jarak Bumi Bulan adalah 356.461 km. Lebih dekat daripada 14 November 2016 nanti. Setelah 14 November 2016, kita akan melihat Bulan Purnama pada saat perigee pada tanggal 25 November 2034 dengan jarak Bumi Bulan adalah 356.445 km.

 

Nah supermoon yang terjadi berulang kali ternyata tidak sama besar terlihatnya. Hal itu karena sudah dijelaskan di awal tadi bahwa lintasan Bulan mengelilingi Bumi berbentuk elips atau lonjong. Meskipun masih cenderung ke bentuk lingkaran. Tingkat kelonjongan dalam matematika, kita kenal sebagai eksentrisitas. Nah, nilai eksentritas orbit Bulan adalah 0,0549. Eksentrisitas lingkaran adalah nol. Terlihat kan, nilai eksentrisitas rata-ratanya tidak nol tapi tidak jauh beda dari nol. Nah, nilai eksentrisitas orbit Bulan ternyata berubah ubah, dari 0,0255 sampai dengan 0,0775.

Karena jarak nya mendekat, maka seolah Bulan tampak lebih besar daripada biasanya. Dalam astronomi, kita menyebutnya sebagai diameter tampak atau diameter sudutnya lebih besar daripada biasanya. Pada 14 November 2016, diameter sudut Supermoon akan lebih besar 7% daripada diameter sudut rata-rata Bulan Purnama. Diameter Bulan Purnama secara rata-rata sekitar setengah derajat. Nah, bila dibandingkan dengan micromoon, yaitu pada saat Bulan berada di jarak terjauhnya, diameter sudut Supermoon akan lebih besar 14% daripada micromoon.

Nah, dengan jarak Bulan yang lebih dekat daripada biasanya, maka cahaya rembulan juga semakin terang. Tingkat terangnya Supermoon lebih terang sekitar 15% daripada biasanya. Atau bila dibandingkan dengan micromoon, maka tingkat terang Supermoon lebih terang 30% daripada micromoon.

Nah, sudah siap untuk mengamati Supermoon? Dan bahkan siap dengan kameranya untuk memotret.

Supermoon tidak akan mudah untuk dikenali perbedaan besarnya dengan Bulan Purnama biasanya. Seperti yang dijelaskan tadi, bahwa Supermoon hanya 7% lebih besar daripada Purnam biasanya.

Trik untuk memotretnya adalah, pilih pada waktu Bulan Purnama baru saja terbit yaitu sekitar Maghrib. Pada saat itu, Bulan masih dekat dengan ufuk Timur. Dan pilihlah daerah sedemikian rupa, sehingga Bulan berdekatan dengan sebuah bangunan sebagai latar depan, untuk membuat Supermoon tampak besar di kamera.

Nah jadi tempatnya bisa di daerah kota. Karena terdapat banyak bangunan sebagai perbandingan ukuran dengan Supermoon. Permasalahannya adalah di daerah perkotaan, arah Timur terhalang oleh bangunan. Sehingga, kita tidak dapat mengamati Bulan Purnama pada saat baru terbit di ufuk Timur.

Ok, kalau begitu, kita cari daerah yang ufuk Timurnya tidak terhalang. Nah, kandidatnya adalah daerah pantai. Namun, kita tidak mempunyai perbandingan gedung layaknya di perkotaan. Bisa juga mencari daerah pantai yang terdapat bukit atau dataran tinggi sebagai perbandingan ukuran Bulan.

Untuk mengamat lebih baik, pastikan daerah tadi yang dipilih tepat meskipun Bulan akan tampak sepanjang malam. Namun, pada saat Bulan berada di atas kepala, perbedaan lebih besarnya susah diamati.

Selain itu, selalu cek perkiraan cuaca setempat sehingga pengamatan dapat optimal.

Tidak ada yang perlu dikahwatirkan dengan fenomena ini, hanya sebuah fenomena astronomi biasa. Namun, kesempatan ini sayang untuk dilewatkan untuk menikmati Bulan bersama keluarga dan kawan-kawan di seluruh dunia. Dan tentunya kami tunggu foto-foto terbaiknya. (silahkan kirim ke FB, instagram andromeda atau twitter @pastronUAD untuk mendapatkan mug bagi foto terbaik)

Sumber : langit selatan, infoastronomi, https://www.theguardian.com/science/2016/nov/10/the-science-of-supermoons-the-lunar-lowdown-on-the-biggest-and-brightest-in-60-years, http://www.space.com/34662-november-supermoon-full-beaver-moon.html , http://earthsky.org/tonight/is-the-september-2016-full-moon-a-supermoon , http://earthsky.org/tonight/closest-supermoon-since-1948

 

 

NB : Hujan meteor North Taurid masih bisa dilihat pada malam hari. Carilah rasi bintang Taurus, nah tunggulah beberapa waktu, maka terlihat sekelebat cahaya terang.

 

Observasi Oposisi Mars dengan Remote Telescope Kerjasama OIF UMSU

Pada tanggal 22 Mei 2016, Mars berada pada keadaan oposisi. Pada saat itulah, Planet Mars terlibat lebih terang. Hal ini karena posisi Matahari dan Mars berada pada posisi yang berseberangan relatif terhadap Bumi. Kesempatan ini tentu tidak dilewatkan oleh PASTRON UAD bersama KS ANDROMEDA. Tidak hanya even oposisi Mars saja yang menarik, kali ini, PASTRON UAD dan OIF UMSU menindaklanjuti MoU dengan melakukan remote telescope.

Trial Remote

Trial Remote

 
Sehari sebelumnya, remote access untuk 2 laptop yang berada berdekatan dengan lancar dilaksanakan. Langit di Kampus 4 UAD sedikit berawan, namun Bulan, Mars, Jupiter dan Antares dapat mudah dilihat. Sedangkan pada tanggal 22 Mei, cuaca di UAD cenderung berawan tebal bahkan hujan. Namun, kegiatan remote telescope tetap dijalankan dan berhasil dengan baik meski ada perbedaan waktu terbenamnya Matahari dan terbitnya benda langit lainnya. Kegiatan ini akan rutin dilakukan untuk melatih personil dan kesiapan alat dan sistem.

OIF UMSU Dome

OIF UMSU Dome

 

 

Di Ruang Kontrol UAD

Di Ruang Kontrol UAD

 

Terimakasih Kepada Tim PASTRON UAD dan Tim OIF UMSU

 

 

 

Sunday is Sun Day to Observe Sun Spot

Pada tanggal 10 April 2016, Pusat Studi Astronomi dan Kelompok Studi ANDROMEDA mengadakan pelatihan teleskop. Pelatihan teleskop berlangsung di pelataran Timur masjid Islamic Center di kampus IV UAD. Selain itu, dilakukan pemotretan citra bintik matahari. Meskipun keadaan berawan dan matahari sudah hampir masuk ke balik bangunan Masjid. Berikut foto citra matahari dengan sunspot 2529

 

Sunspot 2529

Citra Matahari beserta bintiknya yang berhasil terekam kamera

observasi sunday

Suasana Observasi dan Pelatihan Teleskop