Pastron Adakan Seminar Astronomi

KABAR LTPS - admin | 23/04/2015 | 1125 kali dibaca

candiAstronomi atau ilmu perbintangan sudah tak asing lagi dalam budaya Nusanara ini. Kita pasti sudah mengenal istilah gubug penceng, waluku, wuluh, dan sapi gumarang. Ya, itulah beberapa penamaan rasi-rasi bintang dalam bahasa Jawa. Sudah barang tentu, di daerah dan budaya lain pasti mempunyai istilah yang berbeda-beda.

Kekayaan dan kearifan lokal Nusantara masih banyak yang belum dikaji dan diteliti. Khususnya budaya lokal yang berkaitan dengan astronomi, misalnya penentuan musim dan penentuan waktu upacara tradisional. Budaya lokal yang berkaitan dengan astronomi tersebut sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat nusantara sejak dahulu. Sehingga, sebuah pertemuan ilmiah perlu diadakan untuk menjadi wadah diskusi bagi para peneliti mempublikasikan penelitian di bidang astronomi dalam budaya. Dengan ini diharapkan lebih banyak lagi fakta dan data yang terungkap disertai dengan analisa yang lebih mendalam dan lebih komprehensif.

Oleh karena itu, Pastron akan mengadakan pertemuan ilmiah yang akan membahas kajian ilmu astronomi dalam budaya Nusantara. Kegiatan ini diberi tajuk SINDARA yang merupakan akronim dari Seminar Astronomi dalam Budaya Nusantara. Diharapkan dengan pertemuan ini akan muncul referensi ilmiah tentang astronomi yang bernafaskan Budaya Nusantara.

Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi: http://pastron.uad.ac.id/sindara.

Pendaftaran Peserta Non Pemakalah: KLIK DI SINI

Pendaftaran Peserta Pemakalah: KLIK DI SINI

sindara2

Official Logo Sindara 2015

Filosofi Logo Sindara:

Dua objek di samping kiri tulisan merupakan bentuk susunan batu yang merepresentasikan candi-candi yang ada di Nusantara. Tidak ada candi (yang telah ditemukan di Nusantara) yang dibangun dengan tidak memperhatikan konstelasi bintang-bintang. Sejarawan mengatakan bahwa candi adalah stellarium kuno tempat para “brahmana” merenung mengamati pergerakan benda langit. Ini membuktikan bahwa saat ini penduduk Nusantara telah menguasai ilmu perbintangan, yang dipertegas dengan arah candi yang memiliki simetri tinggi menghadap empat arah mata angin, yang bisa dilihat dari posisi konstelasi bintang tersebut.

Diarsip dalam: Berita, Konferensi |

Tanggapan (1)

Rian wibowo

April 10th, 2015 at 5:38 pm    


Kebudayaan di indonesia memang sudah sangat maju jadi wajar jika ilmu perbintangan sudah maju.

Tinggalkan balasan

Nama *

Surel *

Laman